Membungkam Nyanyian Wistler Blower Dalam Mengungkap Jaringan Koruptor

Posted: Juni 20, 2011 in essai

Gaung demokrasi telah lama dikumandangkan, era reformasi trus merangsek maju dalam mengontrol kerja  pemerintah. Hal tersebut dapat dilihat dari keberanian individu-individu untuk merespon kebijakan pemerintah yang terus mengalir dengan melalui berbagai media masa. Teknologi yang semakin maju pun ikut andil besar dalam memberikan ruang gerak bagi para pengkritisi kinerja pemerintah, sehingga memudahkan akses control bagi para pengkritisi dalam menjalankan fungsinya. Bentuk respon berupa kritik yang dilontarkan tidak hanya berupa komentar secara oral saja, melainkan media tertulis dan visual pun dikembangkan dan dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas kritik berjalan sebagai bentuk kepedulian akan bangsa yang perlu banyak perbaikan.

Apabila dilihat dari gencarnya para pengkritisi dalam mengontrol kinerja pemerintah, dapat diambil kesimpulan bahwa tujuan aksi-aksi tersebut didorong oleh keinginan untuk mencegah kekuasaan pemerintahan yang mutlak dan ketidak inginan rakyat untuk dibodohi kembali. Latar belakang sejarah kelam pemerintahan orde baru yang begitu memasung kebebasan berpendapat dan banyaknya tindakan “Kolusi”, “Korupsi” dan “Nepotisme” lah, yang demikian kuat mencekram suara dan penglihatan masyarakat untuk tahu sejauh mana keterbukaan pemerintah. Cara-cara demikian adalah untuk menutup mata dan pengetahuan rakyat akan tindakan bebas pemerintah meraih kemakmuran personal saja.

Budaya orde baru yang menawarkan kemakmuran personal, menjadi sulit bagi kalangan yang setia akan pemerintahan orde baru untuk melepaskan kebiasaan tersebut. Semua yang berawal dari rela berkorban pada saat dibangunnya Negara ini, berubah menjadi didasarkan pada kepentingan yang sifatnya lebih berorientasi kearah meraup keuntungan belaka. Korupsi yang dulunya tidak begitu merajalela dikalangan pejabat, sampai saat ini menjadi sangat sulit ditumpas akibat dari sudah mengakarnya perbuatan menyimpang ini hingga membentuk jaringan dan akses yang luas.

Membudayanya aktivitas koruptor dalam meraup uang rakyat, dikarenakan akses pemberi kemakmuran dari penguasa dimasa orde baru yang menjadi penyokongnya, runtuh akibat revolusi politik. Salah satu tuntutan revolusi politik akan penghapusan KKN ditubuh pemerintah, membuat atmosfer baru yang perlahan menghapus sepak terjang aksi KKN. Namun, KKN semasa orde baru masih menyisakan jejak bagi orang yang setia dijaman pemerintahan tersebut, yang kemudian mendirikan jaringan baru dengan gerakan yang lebih mengarah pada satu pokok permasalahan tersulit untuk diberantas di negeri ini.

Pemberantasan yang demikian sulit, diakibatkan oleh keterlibatan pejabat tinggi, yang sebelumnya memiliki jaringan lebih luas dalam fungsi pemerintahan maupun pengaruhnya dikalangan para aktor serakah. Penyalahgunaan kewenangan tersebut dilatarbelakangi oleh jabatan yang dipegang, sehingga kekuasaan tersebut menjadi factor kunci akan bertahannya aksi-aksi korupsi terus berjalan.

Baru-baru ini sering kita dengar kasus korupsi yang masih hangat diperbincangkan, tidak hanya dimedia cetak tetapi juga media elektronik terus mengabarkan perkembangannya. Kasus yang tegolong dalam ranah korupsi ini terkait dengan adanya “whistler blower” sebagai aktor penting yang sedikit banyak memberikan informasi tentang kasus korupsi, aktor ini berusaha mengungkap keterlibatan pejabat Negara. Demikianlah semakin membuktikan bahwa kekuatan jaringan korupsi ditengarai ada keterlibatan pejabat tinggi, dimana kekuasaan yang luaslah sebagai dasar sepak terjang mereka terus bertahan.

Nyanyian whistler blower yang dianggap dapat mengancam eksistensi para tikus berdasi menjadi kalang kabut berusaha membungkam bagaimana nyanyiannya tak lagi terdengar. Satu demi satu tindakan korupsi yang dilakukan tikus berdasi dihidangkan kepada khalayak umum melalui media massa. Sebut aja Susno duaji, beliaulah pemeran whistler blower yang saat ini sedang dilumpuhkan jaringan informasinya oleh jaringan-jaringan koruptor melalui kewenangan pejabat-pejabat yang juga terlibat dengan kerja kotor para koruptor. Korupsi yang dilakukan oleh oknum pejabat, dimana telah disebutkan oleh susno duaji tidak menjadi terus untuk dituntaskan malah sebaliknya menjadi dikesampingkan, sedangkan Susno Duaji yang seharusnya memperoleh perlindungan hukum secara layak sebagai whistler blower dicari-cari kesalahan yang pernah dilakukan beliau untuk menjatuhkan namanya.

Tindak lanjut yang demikian menjadi semakin tidak masuk akal, berulang kali Susno meminta perlindungan hukum agar nyanyian tetap terdengar sampai pada akhir dimana semua koruptor dapat  ditangkap menjadikan status beliau yang semula sebagai saksi dikepolisian berubah menjadi tersangka korupsi dalam kasus lain. Padahal kasus yang sedang menjadi polemik belakangan ini belum tertuntaskan. Nama koruptor yang ditengarai sebagai otak aksi korupsi yang telah diterangkan oleh Susno duaji diruang DPR tahun 2010 lalu dengan inisial SJ, menjadi tenggelam tertutupi kasus susno yang juga diduga terlibat dalam korupsi PILKADA JABAR. Meskipun Susno tidak lagi dinyatakan sebagai dugaan melakukan korupsi melainkan sebagai tersangka, sungguh mengherankan apabila kasus lain namun serupa bentuk kejahatannya dapat mengesampingkan kasus yang lebih besar ranahnya. Seolah-olah para oknum pejabat berusaha melindungi keterkaitan SJ dan mengalihkan perhatian masyarakat dengan kasus kejahatan yang dilakukan Susno Duaji.

Dibungkamnya nyanyian Susno Duaji seakan mencegah tim pemberantas korupsi menetapkan target perburuan untuk terlibat lebih dalam mengungkap jaringan-jaringannya yang juga masuk kedalam ranah mafia hukum, sebagai bentuk usaha untuk mempertahankan eksistensi para koruptor tersebut bisa melenggang bebas meskipun telah ditetapkan sebagai tersangka. Usaha lainnya yang dilakukan untuk membungkam Susno Duaji adalah dengan memenjarakan Susno dalam kasus PILKADA JABAR yang saat ini telah diproses di pengadilan dengan hasil vonis kurungan 3 tahun penjara. Melihat tidak terlindunginya whistler blower secara hukum, menyebabkan menebar ketakutan untuk whistler blower yang lain demi mengungkap kejahatan para koruptor. Perlulah segera disahkannya RUU tentang perlindungan hukum secara layak bagi pemberi informasi agar terungkap semua kejahatan korupsi beserta jaringannya.

Tindak lanjut terhadap oknum-oknum koruptor yang belum tersentuh hukum seperti yang telah disampaikan oleh Susno duaji dapat menjadi tolak ukur bahwa negeri ini masih perlu melakukan perbaikan norma dan kepribadian. Segera setelah dijatuhkannya vonis terhadap Susno Duaji, diharapkan tidak membuat keadilan hukum negeri inikembali menjadi membeku dibawah tangan oknum-oknum berpangkat, sehingga memberikan ruang dan waktu untuk kembali bangkit dalam merentangkan sayapnya meraup keuntungan sebesar-besanya dari uang rakyat.

 

Oleh : Satria Pratama

Perangkat Muda Baru Departemen Kebijakan Publik BEM FH UNDIP

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s