Penafsiran Hukum

Posted: Juni 6, 2011 in kuliah
Tag:

Penafsiran Hukum

oleh Fuad Fahmi

 

Penafsiran atau interpretasi peraturan undang-undang adalah mencari dan menetapkan pengertianatas dalil-dalil yang tercantum dalam undang-undang sesuai dengan yang dikehendaki serta yang serta dimaksud oleh pembuat undang-undang, untuk undang-undang ini ada 2 cara, yakni:

  1. Penafsiran dalam pengertian subjektif dan objektif

Subjektif apabila ditafsirkan seperti yang dikehendaki oleh si pembuat undang-undang.

Objektif apabila penafsiran lepas atau keluar dari pendapat pembuat undang-undang dan sesuai dengan bahasa sehari-hari.

  1. Penafsiran dalam pengertian sempit dan luas

Penafsiran dalm arti sempit apabila dalil yang ditafsirkan diberi pengertian yang sangat dibatasi.

Penafsiran dalam arti luas apabila yang ditafsirkan diberi pengertian yang seluas-luasnya.

Dilihat dari sumber penafsirannya dapat bersifat:

–          Otentik maksudnya diberikan pembuat undang-undang seperti yang dilampirkan pada undang-undang sebagai penjelasan.

–          Doktrinair/ ilmiah maksudnya didapat dalam hasil karya para ahli.

–          Hakim maksudnya bersumber dari hakim (peradilan) hanya mengikat pihak-pihak yang bersangkutan dan kasus–kasus tertentu.

 

Metode penafsiran

Macam-macam metode penafsiran ada 6, yakni:

  1. Penafsiran Gramatikal (tata bahasa)

Penafsiran menurut tata bahasa/ kata-kata, kata-katanya harus singkat, jelas, dan tepat. Selain arti kata per kata hakim juga harus mengerti kontens kalimatnya.

  1. Penafsiran Historis/ Sejarah

Meliputi undang-undang yang bersangkutan, macamnya Fockema andre, membagi penafsiran dalam 2 bentuk:

–          Penafsiran asal usul

–          Penafsiran menurut sejarah pembuatan undang-undang

  1. Penafsiran Sistematis

Penafsiran yang menghubungkan pasal yang satu dengan pasal-pasal yang lain dalam suatu perundang-undangan hukum lain.

  1. Penafsiran Sosiologis/ Penafsiran Teteologis/ Penafsiran Keadaan Masyarakat

Penafsiran yang disesuaikan dengan keadaan masyarakat sewaktu undang-undang dibuat, keadaan sosial masyarakat undang-undang lain daripada undang-undang tersebut diterapkan kemudian.

  1. Penafsiran Otentik

Penafsiran secara resmi dilakukan oleh pembuat undang-undang dan bersifat subjektif ditafsirkan agar berlaku dalam hukum, hakim pun tidak boleh melakukannya.

  1. Penafsiran Perbandingan

Penafsiran dengan membandingkan antara hukum lama dengan hukum positif yang berlaku saat ini. Yang disoroti adalah hukum lama dengan hukum positif yang berlaku, hukum nasional yang asing, dan kolonial peninggalan Belanda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s